IQLAB Gelar Lokakarya Kurikulum OBE bagi Program Studi Bahasa dan Sastra Arab di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Bincang Daring : Mimikri Dan Hibriditas Budaya Dalam Ar-Rajulul-Ladzi Amana Karya Najib Al-KilaniBincang Daring

Acara Bincang Daring IQLAB (Ittihad Aqsam Al-Lughah Al-Arabiyah wa Adabiha) Indonesia kembali menjadi forum akademis bagi para pegiat, dosen, serta mahasiswa bahasa dan sastra Arab. Pada Senin, 27 Oktober 2025, acara Bincang Daring IQLAB sukses diselenggarakan melalui Zoom Meeting dengan mengangkat tema, “Mimikri dan Hibriditas Budaya dalam Ar-Rajulul-Ladzi Amana Karya Najib Al-Kilani”. Dihadiri lebih dari 90 peserta dari berbagai institusi, pertemuan ini menegaskan komitmen IQLAB dalam memajukan diskursus sastra Arab kontemporer di Indonesia.

Acara dibuka secara resmi oleh MC, Rahmi Yulida Harahap, dan dilanjutkan dengan sambutan kunci dari Ketua IQLAB Indonesia, Dr. Uki Sukiman, M.Ag. Dalam sambutannya, Dr. Uki Sukiman menyoroti urgensi standardisasi kurikulum Sastra Arab yang akan dibahas lebih intensif oleh pengurus IQLAB bersama Ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Arab se-Indonesia dalam pertemuan luring di Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon, sebagai upaya untuk menggarisbawahi penguatan fondasi keilmuan bahasa dan sastra Arab.

Puncak acara memasuki sesi inti yang dimoderatori oleh Muhammad Nashi Huddin Ubadillah, S.Pd., M.A., yang memperkenalkan narasumber tunggal, Prof. Dr. Sangidu, M.Hum. beliau adalah Guru Besar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada dengan spesialisasi keilmuan pada Kesusastraan Arab Modern. Profesor Sangidu memaparkan materi yang berfokus pada kritik pascakolonialisme dan implikasinya dalam memahami kompleksitas interaksi budaya antara Timur dan Barat. Diskusi akademik ini berpusat pada sebuah novel monumental karya sastrawan Mesir, Najib Al-Kilani, berjudul Ar-Rajulul-Ladzi Amana (Pria yang Beriman).

Prof. Dr. Sangidu, M.Hum

Sinopsis Novel Ar-Rajulul-Ladzi Amana

Ar-Rajulul-Ladzi Amana menghadirkan narasi yang mendalam dan provokatif melalui kisah perjalanan spiritual tokoh utamanya, Iryan Carlo. Iryan, seorang musisi muda berbakat berkebangsaan Italia, mewakili simbol budaya Barat yang mapan. Namun, perjalanan hidupnya mengarah pada pencarian eksistensial dan kebenaran keyakinan agama yang hakiki. Novel ini mengisahkan transformasi dramatis Iryan dari seorang pemeluk Kristen menuju penemuan Islam. Perjalanan ini tidak hanya sebatas konversi agama, melainkan juga sebuah proses asimilasi dan akulturasi budaya.

Dalam konteks kritik pascakolonial, karakter Iryan Carlo menjadi representasi dari hibriditas budaya, sebuah konsep yang merangkul perpaduan pengaruh Timur dan Barat tanpa menghilangkan identitas personal. Kisah ini secara fundamental menantang dikotomi biner Timur-Barat dan narasi superioritas Barat (Orientalisme) yang telah lama mendominasi wacana global.

Analisis Mimikri dan Hibriditas Budaya

Prof. Sangidu memaparkan bahwa karya Al-Kilani ini kaya akan dinamika mimikri dan hibriditas sebagaimana dikonseptualisasikan dalam kerangka teori pascakolonial, khususnya melalui lensa subversi narasi dominan. Mimikri, yang awalnya diidentifikasi sebagai strategi kolonial untuk menciptakan “warga yang hampir sama tetapi tidak sepenuhnya sama” (a subject that is almost the same, but not quite white), diputarbalikkan secara radikal oleh Al-Kilani. Iryan Carlo, yang secara kultural mewakili pusat peradaban Barat (Italia), justru melakukan Mimikri Terbalik. Ia secara sadar dan sukarela memeluk sistem nilai dan budaya Pinggiran (Timur/Islam), sebuah tindakan yang secara esensial mendekonstruksi hierarki pengetahuan kolonial.

Aksi ini menghasilkan Hibriditas Progresif yang kompleks. Transformasi nama Iryan Carlo menjadi Abdullah Carlo menjadi penanda utama dari proses negosiasi identitas. Ia tidak sepenuhnya meninggalkan Barat (terwakili oleh nama keluarga ‘Carlo’ yang dipertahankan), juga tidak sepenuhnya diasimilasi oleh Timur; sebaliknya, ia menciptakan Ruang Ketiga yang bermakna. Abdullah Carlo mewakili subjek pascakolonial yang bukan lagi subjek Kristen Italia, tetapi juga bukan subjek Muslim Timur tradisional. Ia adalah sebuah percampuran yang menolak dikotomi. Proses spiritual dan pernikahannya dengan Maisun dari Damaskus adalah manifestasi sosiologis dari hibriditas ini, di mana pertukaran budaya terjadi secara egaliter, alih-alih di bawah paksaan atau tekanan. Hal ini secara implisit menyoal klaim keunggulan budaya Barat (Orientalisme) dengan menunjukkan bahwa Pusat sendiri dapat mencari pembenaran dan kebenaran di Pinggiran.

Lebih lanjut, analisis Prof. Sangidu menyoroti karakter Syamsi sebagai respons yang berbeda terhadap tekanan budaya global. Syamsi adalah inkarnasi dari Hibriditas Defensif atau Resistensi Budaya. Ia mempraktikkan kebiasaan Timur secara mendalam dan secara tegas menolak infiltrasi budaya Barat. Hal ini digambarkan dalam menjaga keyakinan agamanya dengan cara menolak menikah dengan non-muslim dan ketaatan dalam praktik-praktik keagamaan. Kontras antara hibriditas inklusif Abdullah Carlo dan hibriditas resistif Syamsi menyajikan spektrum penuh dari tanggapan subjek pascakolonial terhadap kolonialisme budaya. Kedua karakter ini menunjukkan bagaimana konsep hibriditas dalam karya Al-Kilani tidaklah monolitik, melainkan medan pertempuran ideologis yang memadukan imitasi, negosiasi, dan penolakan.

Metode Penelitian Sastra Pascakolonial

Pada bagian akhir, yakni sesi diskusi dan tanya-jawab, Prof. Sangidu beralih pada diskusi metodologi penelitian, sebuah panduan penting bagi kalangan akademis yang hadir. Beliau menekankan pentingnya pendekatan yang berbasis data dalam analisis sastra pascakolonial. Peneliti, menurutnya, harus terlebih dahulu menganalisis data (teks) secara mendalam sebelum memilih kerangka teoritis yang sesuai.

Metode yang direkomendasikan mencakup analisis struktural, perbandingan sejarah, dan analisis intertekstual. Pesan kunci yang disampaikan adalah bahwa teori harus dipilih berdasarkan seberapa baiknya ia mencocokkan dan menjelaskan data temuan, bukan berdasarkan preferensi teoretis yang telah ditentukan sebelumnya (a priori). Pendekatan ini memastikan bahwa analisis sastra tetap relevan, teruji secara empiris dalam data tekstual, dan tidak dipaksakan oleh teori semata.

Sesi Bincang Daring ditutup dengan diskusi interaktif mengenai penerapan metode-metode analisis sastra pascakolonial ini pada sastra Indonesia, khususnya pada karya-karya yang menggambarkan persimpangan unsur-unsur tradisional dan modern serta dinamika hibriditas budaya. Secara keseluruhan, Bincang Daring IQLAB kali ini sukses menyajikan wacana mendalam tentang hibriditas dan mimikri budaya serta analisis sastra pascakolonial, dimana menegaskan pentingnya pendekatan teoritis berbasis data dalam memahami interaksi budaya kompleks dalam sebuah karya sastra.